KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL
3.1
Oleh : Yunarti Safitri,
S.Pd.I
CGP Angkatan 6 Kabupaten
Subang
Bismillahirrahmanirrahim
“Mengajarkan anak
menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah
yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts
is best).
Bob Talbert
Sebuah kata yang sangat bermakna
yang disampaikan oleh Bob Talbert mampu menyentuh hati saya bahwa tidaklah perlu
banyak menuntut kepada murid untuk dapat memahami sebuah teori pembelajaran,
namun perlu mengajarkan nilai-nilai yang akan tertanam dalam diri murid sebagai
bekal mengarungi masa depannya nanti agar mereka mendapat keselamatan dan
kebahagiaan dalam menjalankan perannya sebagai kholifah di muka bumi serta mampu
mengambil keputusan yang berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan.
Seorang pendidik adalah pembelajar
sepanjang hayat yang harus mampu memotivasi dirinya untuk terus mengembangkan
diri demi keberhasilan murid-muridnya dimasa depan “ guru yang pantas belajar
adalah mereka yang mau belajar”. Pada pendidikan
guru penggerkak, banyak hal yang bisa saya pelajari dan setidaknya mampu
membangun paradigm saya tentang hakikat dari tujuna pendidikan.
Bapa pendidikan nasional yaitu Ki hadjar Dewantara yang terkenal dengan Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktek baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Gru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.
Dalam pengambilan suatu keputusan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai bagaikan gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Maka penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan mempengaruhi setiap keputusan yang kita ambil.
Keterampilan dalam
mengambil sebuah keputusan tidak cukup dengan mempelajari teori pengambilan keputusan,
namun kita juga harus terbuka dengan ide dan gagasan orang lain. Misalnya melalui
proses Coaching. Kegiatan coaching merupakan ketrampilan yang sangat penting
dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri
kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA,
kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat
pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila
dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian
keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
Akan banyak sekali
masalah / kasus yang kita hadapi sebagai seorang pemimpin , Pada pembahasan
studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran
diri atau self awareness dan keterampilan
berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan
langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas
untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti
benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar.
Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas
sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran.
Pengambilan
keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita
inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang
sistematis. Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA
untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Dalam kasus dilema
etika, pada dasarnya apapun keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara
moral. Akan tetapi perlu memperhatikan prinsi-prinsip dalam pengambilan suatu
keputusan. Kita harus berfikir hasil akhir dari keputusan kita yang sesuai
dengan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based thinking), kita
juga harus melihat peraturan yang mendasari keputusan yang kita ambil (berpikir
berbasis peraturan-rule based thinking) serta kita harus menciptakan
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sesuai dengan prinsip
berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking).
Merdeka belajar
merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar
berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya)
tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya
sesuai dengan potensi yang dia miiki. Maka keutusan yang kita ambil tidak boleh
merampas kebahagiaan siswa dan juga merampas potensi yang dimiliki siswa.
Guru adalah
pemimpin pembelajaran sebagai pamong yang diibaratkan seorang petani yang
menyemai benih. Benih tersebut dapat tumbuh subur apabila dirawat, dan dijaga
dengan baik. Demikian juga dengan murid, seorang guru bertanggungjawab untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki murid sebagaimana petani yang menyemai
benih untuk mendapatkan hasil yang baik sehingga setiap keputusan guru akan
berpengaruh pada masa depan murid.
Setelah melewati
proses panjang pendidikan guru penggerak, tentu banyak hal yang bisa kita
terapkan dalam dunia pendidikan, misalnya :
1. Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang
harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar
Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
2. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan
menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman (well being).
3. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki
kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju
profil pelajar pancasila.
4. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak
dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkan
pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu
masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka
belajar.
Komentar
Posting Komentar